Finding Lunang. Finding Me.

Yogyakarta, 13 Juli 2013

ART|JOG|13

Namanya Lunang, bocah kecil yang dicari tujuh petualang.

Lunang, sang ombak kecil yang katanya menyimpan kekayaan, diam-diam menyimpan ”aku” di dalam kisahnya.

Ya…

Kutemukan aku, yang sempat merasa hilang, dalam pementasan boneka kertas itu

Kutemukan aku saat alagu milik belkastrelka yang imut dan mistis mulai mengalun

Kutemukan aku dalam senyap penonton yang khidmat saat pementasan Lunang dimulai

Kutemukan aku dalam gelak tawa saat “atapaya-atapaya” diucapkan Lunang

Kutemukan aku dalam setiap gerakan gemulai penari dan tokoh yang berteriak lantang

Kutemukan aku dalam mimik serius tujuh petualang pencari Lunang

Kutemukan aku dalam riuh tepuk tangan usai karusel Lunang berputar riang

Kutemukan aku sembari menggamit lenganmu yang nyaman di tengah asak pementasan

Terima kasih, Pappermoon Puppet Theatre..  Terima kasih, Lunang.. Terima kasih, “rumah”-ku..  Terima kasih, sayangku..

Terima kasih

…izinkanlah aku untuk slalu pulang lagi…

sumber foto: facebook Papermoon Puppet Theatre, Indonesia

Image

sumber foto: Facebook Papermoon Puppet Theatre, Indonesia

kisah lengkap Lunang: websitePapermoon Puppet Theatre Indonesia

Di Sini.

Di sinilah aku. Di titik ini, aku tak lagi bisa nikmat membaca padahal aku dikelilingi buku. Di titik ini, aku tak lagi khidmat menuangkan banyak hal yang seharusnya aku tulis. Di titik ini, aku bisa duduk diam, tapi otakku setiap hari berteriak. Bukan, bukan karena musik pop ala Korea yang tak ku suka. Bukan karena itu.

Aku hanya tak suka dengan atmosfir kota ini. Aku ingin kembali. Aku ingin pulang, ke tanah Sultan yang perlahan menjelma menjadi rumahku yang nyaman.

Istimewa

Kalau aku boleh memilih.. aku kembali hidup di Jogja, kota yang mengaliri darahku dengan seni, alam, budaya, dan segala kerumitannya. Aku ingin kembali menghidupi mimpiku, di sana…

karena bijak adalah tidak memaksa dan tidak terpaksa

FEATURES

Kamis, 14 Oktober 2010 , 08:38:00

Yusuf dan Lili setelah dinyatakan sah dalam pernikahan tanpa agama di utara Jogjakarta, Minggu (10 Oktober 2010). Foto: Sugeng Sulaksono / Jawa Pos
Pada hari istimewa, 10-10-2010, Yusuf Waluyo Jati dan Lusia Lilik Hastutiani melangsungkan pernikahan. Hanya, upacara pernikahan mereka dilangsungkan di lembaga penghayat kepercayaan yang tidak melibatkan agama.
 
================================
SUGENG SULAKSONO, Jogjakarta
================================

MINGGU (10/10) menjelang magrib Toyota Avanza hitam melesat dari Bantul menuju sebuah tempat di utara Jogjakarta. Ada tujuh penumpang di dalamnya, dua di antaranya pasangan yang sedang berdebar menanti upacara pernikahan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 90 menit, rombongan tiba di lokasi yang akan meluluskan keinginan mereka untuk hidup berumah tangga. Namun, bukan di KUA (kantor urusan agama), bukan pula di masjid atau gereja. Mereka mendatangi kantor DPD Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) terhadap Tuhan Yang Mahaesa (Demi alasan tertentu, tempat pasti kantor itu dirahasiakan, Red).

Di teras kantor HPK rombongan disambut Sudijono, 74. Dialah penghulu penghayat sekaligus ketua umum HPK daerahnya. Dia juga pemilik rumah yang sekaligus dijadikan kantor lembaga tersebut. “Saya ini penghulu penghayat, seperti penghulu lain. Tapi, tidak digaji negara,” ujarnya memperkenalkan diri, lantas tertawa.

Sudijono mengaku, lembaga yang dipimpinnya sudah mendapatkan akreditasi dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (dulu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) pada 1980. “Baru kali ini kami menikahkan pasangan di luar anggota penghayat kepercayaan. Mungkin orang belum tahu atau takut nanti status pernikahannya sah atau tidak,” ucap pensiunan pegawai negeri sipil itu.

Meski upacara “pernikahan”-nya dilangsungkan sederhana, Yusuf Waluyo Jati maupun Lusia Lilik Hastutiani tetap mengenakan pakaian terbaik sebagaimana yang dilakukan calon pengantin pada umumnya. Mempelai pria mengenakan setelan jas hitam lengkap, sedangkan mempelai perempuan mengenakan kebaya modern dengan rambut disanggul.
Sejak pagi keduanya sibuk mempersiapkan diri. Mereka ke salon untuk memoles tubuh. Mereka benar-benar ingin melewati momen bersejarah itu dengan totalitas sesuai dengan kesanggupan masing-masing.

Pukul 19.30 belum ada tanda-tanda upacara dimulai. Sang penghulu masih bercerita ngalor-ngidul. Kedua mempelai maupun anggota rombongan dari Jogja jadi tidak sabar untuk segera melalui detik-detik mendebarkan itu. Ketika Sudijono diingatkan, ternyata dia memang sengaja mengulur-ulur waktu.

Sudijono lantas membuka Kitab Primbon Betaljemur Adammakna yang di dalamnya ada keterangan bahwa malam Senin sekitar pukul 19.30 itu bertanda cidro atau cedera. “Jadi, tidak baik untuk melangsungkan pernikahan. Ini menurut leluhur kita yang harus kita hormati. Sekarang kan sudah banyak yang melupakan ajaran leluhur dan melawan orang tua,” katanya.

Jam yang baik malam itu, kata Sudijono, dimulai pukul 21.00. Sebab, menurut kitab primbon maknanya trisno atau cinta. Maka, upacara pun ditunda hingga satu setengah jam kemudian. Sudijono meminta kedua mempelai beserta ibu dan dua kakak perempuan Lusia untuk bersabar. Untuk “membunuh” waktu, Sudijono lalu memutar video pernikahan putrinya secara penghayat kepercayaan. Tuan rumah menyuguhi teh hangat dan sekaleng biskuit untuk camilan tamu.

Begitu jam yang dinanti tiba, kedua mempelai diminta duduk berdampingan di ruang tamu. Sudijono kemudian masuk kamar untuk melakukan ritual. Tidak sampai lima menit, Sudijono selesai melaksanakan ritual. Dia kembali ke ruang tamu untuk menemui kedua mempelai dan rombongan. Upacara pun dimulai. Dia meminta kedua mempelai menjabat tangannya bersamaan.

Saat itulah, dengan suara berbisik dan bahasa Jawa kromo inggil yang diucapkan dengan cepat, Sudijono “menikahkan” pasangan tersebut. Tak ada satu kata pun yang menyinggung salah satu agama. Di atas meja juga tidak ada apa-apa kecuali sekaleng biskuit yang disuguhkan Sudijono. Begitu sang penghulu selesai melafalkan “akad” pernikahan itu, selesailah upacara perkawinan tersebut.

“Sekarang kalian sudah menjadi suami istri yang sah secara siri. Tinggal menunggu akta nikah dari kantor catatan sipil yang keluar kurang lebih 30 hari lagi. Bila akta itu keluar, pernikahan kalian sah secara negara,” ucap Sudijono setelah menyatakan pernikahan yang dipimpinnya itu sah.

Sudijono selanjutnya akan menguruskan akta pernikahan itu ke petugas catatan sipil. Dirinya merasa berhak mengurus akta itu karena membawa nama lembaga kepercayaan yang sah dan diakui negara berdasar UUD 1945.

Ketika diminta menjelaskan “akad” yang diucapkan saat menikahkan Yusuf dan Lilik -panggilan Lusia Lilik Hastutiani- Sudijono menolak. Yang pasti, tidak ada ucapan mas kawin seperti pernikahan menurut Islam. Pernikahan itu juga tidak memerlukan saksi atau wali dari kedua mempelai. Cukup di hadapan sang penghulu. “Kalau mas kawin kan bisa diucapkan sendiri,” katanya.

Padahal, Yusuf sudah menyiapkan mas kawin untuk Lilik berupa uang tunai senilai USD 1010 yang bermakna tanggal 10 bulan 10, sesuai dengan tanggal pernikahannya.
Sudijono mengatakan, dirinya hanya membantu mewujudkan pernikahan bagi dua insan berbeda keyakinan, tapi ingin membina rumah tangga, seperti yang terjadi pada Yusuf dan Lilik. “Kasihan mereka sudah bertekad membina rumah tangga, tetapi tidak bisa bersatu. Saya hanya membantu. Mungkin saya tidak ada artinya. Tetapi, saya yakin (langkah ini) ada artinya bagi kehidupan mereka ke depan,” terangnya.

HPK bisa menikahkan pasangan berbeda agama asalkan kedua mempelai merupakan warga negara Indonesia, memiliki KTP, dan meyakini adanya Tuhan. HPK tidak mempermasalahkan perbedaan keyakinan di antara keduanya.

Yusuf sebenarnya berasal dari keluarga muslim. Tapi, saat ini dia tidak meyakini agama apa pun. Dia menempatkan diri dalam kategori agnostik atau tidak peduli pada agama. Sedangkan Lilik menganut Katolik.

Perbedaan keyakinan itulah yang membawa Yusuf dan Lilik ke dalam ritual pernikahan berdasar kepercayaan. “Saya mau melakukan (ritual pernikahan di HPK) supaya diakui negara. Ini adalah upaya mediasi menuju kepastian hukum,” kata Yusuf.

Yang penting, kata alumnus Filsafat UGM itu, pernikahannya tidak memihak agama apa pun. Dengan demikian, Yusuf meyakini rasa sakit yang dirasakan Lilik tidak sedalam jika harus melangsungkan pernikahan dalam agama lain. Begitu pula sebaliknya, Yusuf tidak harus keluar dari keyakinannya untuk menjadikan Lilik sebagai istri.

Yusuf mengaku terpaksa menempuh cara itu karena negara tidak memberikan jaminan terhadap orang yang berbeda keyakinan dalam menikah. “Banyak orang akhirnya mengorbankan salah satu keyakinannya. Seharusnya UU Pernikahan direvisi karena UUD 1945 sudah menjamin sepenuhnya hak warga negara untuk menganut keyakinan atau agama apa pun,” terangnya.

Namun, UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 hanya mengatur satu agama, satu keyakinan. Belum ada ruang untuk mengakomodasi perkawinan beda kepercayaan. “Seharusnya negara lebih akomodatif terhadap mereka yang menikah beda agama. Ruang itu begitu sempit sehingga berpotensi terjadinya pemaksaan kehendak,” harap pria yang berprofesi sebagai jurnalis di salah satu media cetak ternama itu.

Sebelum menemukan solusi untuk melangsungkan pernikahan di HPK, Yusuf dan Lilik nyaris putus asa. Setelah menjalin hubungan lima tahun, keduanya sepakat menuju ke jenjang perkawinan. Namun, perbedaan keyakinan menjadi kendala sehingga mereka sempat berpikir untuk menikah di Singapura. Yusuf merasa upaya itu sulit ditempuh karena selain membutuhkan biaya tinggi, juga sulit mendapatkan pengakuan dari pemerintah Indonesia.

Pada awal 2010, konsep pernikahan mereka dimatangkan dengan menggandeng Deni Ismail, konsultan hukum yang masih sepupu Yusuf. “Pikiran pertama saya, menikahkan mereka di pengadilan negeri dengan mengajukan permohonan pencatatan perkawinan. Tapi, prosesnya panjang dan belum tentu dikabulkan,” kata Deni.

Deni lantas teringat bahwa UUD 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2 menerangkan bahwa negara berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Mahaesa. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. “Bisa saya tafsirkan bahwa perkawinan bisa melalui aliran kepercayaan. Kenapa harus pindah agama,” ujarnya.

Setelah melakukan pencarian, Deni akhirnya menemukan lembaga penghayat kepercayaan yang dipimpin Sudijono itu. “Kedua institusi agama (Islam dan Katolik) tidak membolehkan pernikahan di luar agama. Di sini (HPK) pernikahan tetap terwujud dengan agama apa pun berlandaskan kepercayaan kepada Tuhan Yang Mahaesa,” ucapnya.
Deni meyakinkan, pernikahan melalui HPK jelas tidak ada penyelundupan hukum, tidak ada unsur tipu-tipu, dan sejenisnya. Dari aspek hukum, pernikahan melalui jalan itu adalah sah.

Menurut Deni, pernikahan dengan aliran kepercayaan justru lebih bijak bila dibandingkan dengan harus memaksa salah satu pihak masuk kepada kepercayaan lain hanya untuk melangsungkan prosesi sesaat. “Ini tidak menzalimi agama apa pun. Tidak membohongi negara hanya untuk kepentingan sesaat. Banyak terjadi yang keluar (agama tertentu) untuk menikah, lalu kembali lagi setelah itu. Saya salut pada Yusuf dengan konsistensinya tidak menistakan kepercayaannya dan sepakat membina rumah tangga yang harmonis,” ungkapnya. (*/c2/ari)

 

http://www.jpnn.com/index.php/authentication/flash/201003/iklan/lowongan/flash/201008/jpnn_network.php?mib=berita.detail&id=74512

Menapaki Jejak Lahar Merapi

Selamat datang di kampung KinahrejoPlang cukup besar itu dipajang begitu saja di batang pohon besar yang roboh.

Debu dan pasir yang sempat menutup rata permukaan puing-puing rumah kini ditumbuhi rerumputan. Sudah lebih dari setahun desa ini dan desa sekitarnya mati. Terkubur diam dalam debu dan pasir semburan gunung api. Untungnya, denyut kehidupan tidak ikut terhenti. Pengalaman sendu tidak menyurutkan semangat warga untuk membangun kembali kehidupan. Selaksa hektare lahan yang menyisakan rasa pilu kini menggeliat menjadi destinasi wisata. Mereka menyebutnya volcano tour atau lava tour.

“Daripada ditonton, lebih baik membuat tontonan yang menghasilkan pemasukan guna membangun kembali kehidupan”.

Kalimat itulah yang menjadi modal awal paket wisata napak tilas bencana ini tercipta. Bermula dari warga Kinahrejo yang merasa gerah dengan warga lain yang berdatangan seolah menjadikan kawasan petaka itu sebagai tontonan. Akhirnya, warga sepakat untuk memanfaatkan penasaran para pelancong itu sebagai modal membangun kembali desanya yang telah luluh lantak. Konsep yang ditawarkan sederhana, yaitu racikan narasi tentang erupsi disertai rute perjalanan menyusuri sudut-sudut dramatis lereng merapi.

Setiap wisatawan yang datang akan dikenai karcis masuk seharga Rp5000,00 per orang. Untuk mencapai setiap lokasi yang dituju disediakan jasa pemandu wisata yang berasal dari warga lokal. Selain sebagai penunjuk jalan dan pemberi informasi, peran pemandu juga penting dalam mencari jalan alternatif mengingat cuaca merapi yang berubah-ubah.

Paket wisata yang ditawarkan pun beragam. Ada yang cukup dengan berkeliling dengan jalan kaki. Ada juga yang ingin merasakan sensasi lain dengan menyewa ojek, motor trail, atau mobil jip. Menjelajahi desa ini dengan ojek dikenakan tarif Rp20.000,00, sedangkan menyewa motor trail ditarik iuran Rp10.000,00 per satu kali sewa. Sementara untuk sewa jip dihargai Rp150.000,00 per 1,5 jam. Fasilitas ini memang membuat Anda merogoh kocek lebih dalam, tetapi pengalaman yang ditawarkan jangan dipertanyakan lagi. Jelas luar biasa! Harga setiap fasilitas yang telah dipatok itu sebagian akan masuk ke kas desa untuk dimanfaatkan bersama, terutama sebagai modal membangun usaha yang baru.

Salah satu titik lokasi yang diminati wisatawan adalah bekas kediaman Mbah Maridjan. Rumahnya memang sudah rata dengan tanah, tetapi di atasnya didirikan sebuah gubuk kecil beratap genteng sebagai penandanya. Di sebelahnya, tampak bangunan menyerupai masjid yang konon tempat Mbah Maridjan berdoa sebelum ajal menjemputnya. Di titik inilah wisatawan dapat membayangkan sendiri kejadian saat itu. Terlebih, warga melengkapi lokasi ini dengan koleksi foto sebelum dan sesudah tragedi awan panas yang secara tiba-tiba menerpa dan menyapu segalanya.

Kalau belum puas, beranjaklah ke sisi timur Kinahrejo. Anda bisa lanjut ke pondok kenang-kenangan untuk melihat perkakas sisa erupsi atau pun berburu suvenir. Mulai dari kaus, payung, buku, foto, dan stiker bisa didapatkan di sini. Piring-piring yang selamat dari terjangan wedhus gembel yang telah berwarna cokelat gosong juga dijual sebagai suvenir.

Bagi Anda yang kelelahan, istirahatlah di pondok-pondok bambu yang diberi nama warung Kinah. Di sana Anda dapat meluruskan kaki sambil menyantap sajian ringan khas Merapi. Minuman yang menjadi andalan jamuannya adalah wedang gedhang, yaitu minuman hangat berbahan pisang.

Bila berniat sedikit lagi menguras keringat, Dusun Kepuharjo adalah destinasi berikutnya yang harus Anda tuju. Di sana ada program penghijauan Gunung Merapi. Anda juga dapat kembali menyaksikan Sungai Opak Purba, alur Sungai Opak di zaman purbakala kembali terbongkar oleh derasnya lahar dingin.

 

GambarGambarGambar

nb: sumber gambar google.com