Learning is an individual journey

Sekalipun tiga orang melewati proses belajar yang sama, masukan yang diterima masing-masing individu pasti berbeda. Ibarat nasib, pembelajaran adalah kesunyian masing-masing.
Oleh sebab itu, diperlukan sharing.
Spazio, 28 Juli 2016.

AMA Youth

Bjonnicus-01

Absen.

Terakhir kali aku berbagi tulisan hari Jumat, minggu lalu. Sekarang sudah masuk hari Senin. Iya, sudah selama itu aku absen berbagi di sini. Tapi, aku tidak berhenti, liburan kemarin aku berbagi isi kepala secara langsung dalam perut dedek Bjo! Benjamin Bjonnicus. Kisah yang aku tuang, aku simpan dalam-dalam. Belum ingin kubagi di sini. 

Aku masih terus menulis. Harus! sebagai upaya melawan lupa mulai dari hal ringan dalam keseharian.

Sesak, tapi Hampa.

Kurang lebih seperti itulah tubuhku. Ragaku ke sana ke mari, mengurus ini itu, mengerjakan apa pun, tetapi jiwaku menganga.. merasa kosong cenderung hampa. Hambar.

Aku sadar aku sudah menjauhi-Nya. Aku salah. Aku kalah. Aku menyerah, kembali ke apa yang seharusnya aku lakukan untuk-Nya.

Terima kasih atas hampa yang Kau selipkan, untuk mengingatkanku dari kesombongan.

Terima kasih atas kosong yang Kau sisipkan, untuk menyadarkanku tentang keberadaan-Mu.

Terima kasih…

Temani aku…

Temani…

Aku takut sendirian, tanpa-Mu…

Istimewa

Kalau aku boleh memilih.. aku kembali hidup di Jogja, kota yang mengaliri darahku dengan seni, alam, budaya, dan segala kerumitannya. Aku ingin kembali menghidupi mimpiku, di sana…

Mencipta Bahagia.

Setelah istri saya, Margaret, dan saya menikah selama empat atau lima tahun, kami datang ke sebuah konferensi untuk para pastor, di mana saya telah diminta untuk menjadi salah satu pembicara.

Margaret bersedia menghadiri sesi para pasangan. Tidak seperti saya, bicara bukanlah hal yang sangat ia senangi. Ia bisa berbicara dengan baik namun tidak benar-benar menyukainya. Saya ingin mendukungnya, jadi saya menghadiri sesinya.

Selama waktu tanya jawab, seorang wanita berdiri dan bertanya, “Apakah John membuatmu bahagia?”

“Apakah John membuat saya bahagia?” Margaret berpikir, “tidak, ia tidak membuat saya bahagia.” Saya segera mencari-cari di mana kah pintu keluar terdekat.

“Dua atau tiga tahun pertama kami menikah,” ia melanjutkan, “saya berpikir bahwa John bertanggung jawab untuk membahagiakan saya. Namun, ia tidak melakukannya. Ia tidak jahat pada saya atau apa pun. Ia adalah seorang suami yang baik. Namun, tidak ada orang lain yang bisa membahagiakan seseorang. Itu adalah tanggung jawab saya sendiri.”

Sebagai seorang muda yang baru saja menikah di awal usia dua puluh tahunan, Margaret menemukan sesuatu yang tidak akan pernah dipelajari oleh orang lain. Setiap orang harus bertanggung jawab atas sikapnya sendiri. Jika Anda ingin agar hari ini menjadi hari yang baik, Anda harus bertanggung jawab atas cara Anda memperlakukan sepanjang hari Anda.

— John C Maxwell, Make Today Count (2012)

Bisa jadi, inilah jawaban dari setiap teriakan galau yang saat ini sedang marak. Bahagia adalah tanggung jawab Anda sendiri. Ciptakan kebahagiaanmu sendiri, lalu bagikan kepada orang lain. Pengaruhi mereka untuk merasakan bahagia pula. Dengan begitu, kebahagiaan yang kau ciptakan, yang kau pertanggungjawabkan, akan mengalir termasuk kembali ke dalam dirimu lagi.