Semarang!

 

Trotoar Besar SemarangLiputan Pazia membawaku melangkahkan kaki di sepanjang trotoar besar Semarang. It was fun!

Advertisements

Mencicipi Nuansa Harmonis Pazia Gandaria City

::Shop Review::

Keharmonisan itu tercipta dari kebiasaan berbagi. Tidak hanya antarrekan kerja, Pazia IT Crew Gandaria City bahkan terbiasa berbagi ilmu dengan toko IT sebelah. Tidak jarang, IT Crew sering merekomendasikan produk toko IT  sebelah kepada konsumen. Bagaimana bisa?

Tidak semua gerai teknologi menjual produk IT secara lengkap. Hal ini disadari betul oleh Pazia IT Crew Gandaria City. Banyak konsumen yang datang lalu menanyakan produk tertentu namun tidak tersedia di toko ini. Bila terjadi hal semacam ini, IT Crew tanpa ragu mengantar konsumen tersebut ke toko sebelah yang kira-kira menyediakan produk yang dimaksud.

Tidak jarang, pegawai toko sebelah pun melakukan hal serupa. Bila persediaan produk mereka tidak memenuhi keinginan konsumen yang datang, mereka pun segera mengantar konsumen ke toko IT sekitar, termasuk ke Pazia Shop.

Lebih dari itu, IT Crew pun seringkali berbagi ilmu dan pengalaman dalam melayani konsumen dengan pegawai toko-toko sebelahnya. Misalnya, melalui acara makan-makan bersama. Kekeluargaan yang mereka bangun membentuk aura positif yang hangat di sepanjang tepian lantai 1, Gandaria City Mall.

***

Bila keharmonisan bersama toko-toko sebelah berhasil mereka bangun, lalu bagaimana dengan hubungan internal mereka? simak pernyataan IT Crew berikut.

“Kondisinya sangat nyaman, terlebih IT Crew-nya saling bahu-membahu, saling support dalam setiap proses melayani pelanggan,” terang Denny Rusandi, supervisor Pazia Shop Gandaria City. Pria yang sudah bekerja selama 1,5 tahun di Pazia Shop Gandaria City ini mengaku betah bekerja bersama rekan IT Crew.

Seolah mengamini perkataan sang supervisor, di lain tempat Rendy Adam, IT Crew, pun mengaku telah nyaman bekerja di Pazia Shop Gandaria City. Awalnya Rendy sempat bekerja di Pazia Summarecon. Meskipun demikian, ia tidak merasa canggung dengan suasana kantor barunya.

“Supervisornya care, saya disambut dengan baik di sini. Selain itu, saya memperoleh banyak ilmu dalam menangani konsumen dan memahami spesifikasi produk. Anak-anak lama juga enak diajak kerja sama. Konsumennya juga enak, soalnya ngga terlalu susah dirayu, ha-ha-ha,” canda Rendy.

Hal serupa juga disampaikan oleh Astri Tantiani, IT Crew. Keduanya merasa suasana bangunan yang menyatu dengan hangatnya kekeluargaan yang mereka bangun bersama meskipun awalnya memiliki latar belakang yang berbeda.

“Saya lulusan teknik informatika. Dulunya cuma paham hardware/software. Kalau sekarang sering browsing info dari internet, ikut sharing, jadi lebih tahu tentang Android, iOS, dan update IT lainnya,” ungkap Rendy.

“Kalau basic saya bukan dari IT, tapi saya diajari oleh supervisor yang luar biasa, dari yang ngga punya basic sampai akhirnya ngerti,ikut training dari Pazia juga. Kalau ada yang masih bingung atau ngga bisa ya diajari sama mereka [rekan IT Crew], diajari teamwork juga. Mereka care banget,” sambung Astri Tantiani, IT Crew.

IT Crew yang gesit, supervisor yang tanggap, dan toko IT sebelah yang bersahabat. Tidak mudah mewujudkan ketiganya dalam waktu singkat. Rupanya, IT Crew lebih banyak mendapatkan pelajaran dari setiap konsumen yang datang. Perlahan mereka petik pelajaran dari setiap keluhan konsumen. Bersama-sama mereka diskusikan masalah yang terjadi. Kemudian, mereka mencari solusi lalu menerapkannya pelan-pelan setiap hari.

“Banyak pengalaman unik bersama konsumen, khususnya mereka yang complain. Saya malah banyak belajar dari konsumen, khususnya dalam upaya melayani setiap konsumen yang datang, terlebih saat shop sedang ramai” tukasnya bersemangat, “shop ini selalu ramai saat weekend. Sebagai antisipasi agar semua konsumen yang datang teratasi dengan baik, kami selalu mentaati instruksi untuk gerak cepat. Maksudnya, setiap satu orang harus bisa meng-handle tiga orang konsumen sekaligus,” jelas Denny.

Tanpa segan, Denny pun berbagi rahasia lain agar gerai yang ia pimpin mampu mempertahankan bahkan menciptakan konsumen loyal.

“Caranya ya selalu mengoptimalkan pelayanan pada konsumen baru supaya jadi konsumen loyal. Dengan begitu, mereka bisa kembali lagi dan memberi rekomendasi kepada teman, keluarga, atau kolega mereka. Pertama kali datang mereka harus disambut dengan ramah, bila ada keluhan melalui telepon atau SMS setidaknya harus segera dilayani, sesekali diberi kabar bila ada promo. Dapat diprediksi, kunjungan kedua konsumen baru ke sini bisa lebih santai.”

“Konsumen yang datang ke sini rata-rata datang memang untuk membeli. Beberapa malah sudah paham spesifikasi produk yang akan mereka beli. Jadi, ngga banyak tanya. Mereka datang, ke arah display, lalu di coba, sedikit bertanya tentang spesifikasi, langsung beli,” tambah Astri.

Keharmonisan yang mampu dipertahankan IT Crew membuat konsumen yang datang turut merasakan kenyamanannya. Bila Anda berada di kawasan Jakarta Selatan, sila bertandang untuk turut mencicipi nuansa harmonis Pazia Shop Gandaria City. [Ari]

berita selengkapnya tentang IT dan Pazia ada di: Pazia IT News digital version

Kisah Panjang Secangkir Arabika

Gambar

Is there life before coffee?

Ungkapan ini sejatinya melekat di benak setiap penikmat kopi yang mewajibkan menyesapnya untuk mengawali hari. Tercatat dalam jurnal kesehatan dunia, setidaknya 80% orang dewasa mengkonsumsi kopi sedikitnya sekali sehari. Bahkan tidak hanya orang dewasa, fanatisme terhadap minuman hitam ini telah merebak hingga usia remaja. Terbukti melalui kedai-kedai kopi yang menjamur di mana-mana banyak diminati. Meskipun demikian, tidak semua penggemar kopi adalah penikmat kopi. Pasalnya, penggemar kopi belum tentu dapat menikmati bahkan mengenal jenisnya.Oleh sebab itu, kali ini, Pazia IT News mengulas salah satu jenisnya, yaitu kopi arabika.

Hanya tumbuh di daerah sejuk dan rentan terhadap serangan hama membuat kopi arabika lebih mahal dibanding robusta. Aromanya sedap, mirip percampuran buah dan bunga. Rasanya lebih halus dengan perpaduan pahit dan asam yang khas di lidah. Kopi jenis ini sangat cocok dipadukan dengan susu atau krim. Ahli sejarah meyakini arabika merupakan turunan kopi ethiopia. Disebut arabika karena pada abad ke-15 tanaman ini dibudidayakan di Jazirah Arab. Belanda berhasil memperoleh bibit kopi dari sana pada 1616 kemudian membuat perkebunan kopi di daerah-daerah jajahannya, termasuk Sri Lanka dan Pulau Jawa. Hingga saat ini, lebih dari 25 juta perkebunan kopi arabika tersebar di penjuru dunia dengan berbagai varietas, Indonesia memiliki varietas terbanyak. Kopi toraja, gayo, dan mandailing adalah arabika nusantara yang paling terkenal. Setiap varietas memiliki cita rasa yang berbeda, tergantung iklim dan tanah tempat kopi ditanam. Untuk menikmati  kopi arabika, Anda dapat mengunjungi Pazia Café.

So, is there life before coffee? The answer is No! A cup of Arabica please..