Menapaki Jejak Lahar Merapi

Selamat datang di kampung KinahrejoPlang cukup besar itu dipajang begitu saja di batang pohon besar yang roboh.

Debu dan pasir yang sempat menutup rata permukaan puing-puing rumah kini ditumbuhi rerumputan. Sudah lebih dari setahun desa ini dan desa sekitarnya mati. Terkubur diam dalam debu dan pasir semburan gunung api. Untungnya, denyut kehidupan tidak ikut terhenti. Pengalaman sendu tidak menyurutkan semangat warga untuk membangun kembali kehidupan. Selaksa hektare lahan yang menyisakan rasa pilu kini menggeliat menjadi destinasi wisata. Mereka menyebutnya volcano tour atau lava tour.

“Daripada ditonton, lebih baik membuat tontonan yang menghasilkan pemasukan guna membangun kembali kehidupan”.

Kalimat itulah yang menjadi modal awal paket wisata napak tilas bencana ini tercipta. Bermula dari warga Kinahrejo yang merasa gerah dengan warga lain yang berdatangan seolah menjadikan kawasan petaka itu sebagai tontonan. Akhirnya, warga sepakat untuk memanfaatkan penasaran para pelancong itu sebagai modal membangun kembali desanya yang telah luluh lantak. Konsep yang ditawarkan sederhana, yaitu racikan narasi tentang erupsi disertai rute perjalanan menyusuri sudut-sudut dramatis lereng merapi.

Setiap wisatawan yang datang akan dikenai karcis masuk seharga Rp5000,00 per orang. Untuk mencapai setiap lokasi yang dituju disediakan jasa pemandu wisata yang berasal dari warga lokal. Selain sebagai penunjuk jalan dan pemberi informasi, peran pemandu juga penting dalam mencari jalan alternatif mengingat cuaca merapi yang berubah-ubah.

Paket wisata yang ditawarkan pun beragam. Ada yang cukup dengan berkeliling dengan jalan kaki. Ada juga yang ingin merasakan sensasi lain dengan menyewa ojek, motor trail, atau mobil jip. Menjelajahi desa ini dengan ojek dikenakan tarif Rp20.000,00, sedangkan menyewa motor trail ditarik iuran Rp10.000,00 per satu kali sewa. Sementara untuk sewa jip dihargai Rp150.000,00 per 1,5 jam. Fasilitas ini memang membuat Anda merogoh kocek lebih dalam, tetapi pengalaman yang ditawarkan jangan dipertanyakan lagi. Jelas luar biasa! Harga setiap fasilitas yang telah dipatok itu sebagian akan masuk ke kas desa untuk dimanfaatkan bersama, terutama sebagai modal membangun usaha yang baru.

Salah satu titik lokasi yang diminati wisatawan adalah bekas kediaman Mbah Maridjan. Rumahnya memang sudah rata dengan tanah, tetapi di atasnya didirikan sebuah gubuk kecil beratap genteng sebagai penandanya. Di sebelahnya, tampak bangunan menyerupai masjid yang konon tempat Mbah Maridjan berdoa sebelum ajal menjemputnya. Di titik inilah wisatawan dapat membayangkan sendiri kejadian saat itu. Terlebih, warga melengkapi lokasi ini dengan koleksi foto sebelum dan sesudah tragedi awan panas yang secara tiba-tiba menerpa dan menyapu segalanya.

Kalau belum puas, beranjaklah ke sisi timur Kinahrejo. Anda bisa lanjut ke pondok kenang-kenangan untuk melihat perkakas sisa erupsi atau pun berburu suvenir. Mulai dari kaus, payung, buku, foto, dan stiker bisa didapatkan di sini. Piring-piring yang selamat dari terjangan wedhus gembel yang telah berwarna cokelat gosong juga dijual sebagai suvenir.

Bagi Anda yang kelelahan, istirahatlah di pondok-pondok bambu yang diberi nama warung Kinah. Di sana Anda dapat meluruskan kaki sambil menyantap sajian ringan khas Merapi. Minuman yang menjadi andalan jamuannya adalah wedang gedhang, yaitu minuman hangat berbahan pisang.

Bila berniat sedikit lagi menguras keringat, Dusun Kepuharjo adalah destinasi berikutnya yang harus Anda tuju. Di sana ada program penghijauan Gunung Merapi. Anda juga dapat kembali menyaksikan Sungai Opak Purba, alur Sungai Opak di zaman purbakala kembali terbongkar oleh derasnya lahar dingin.

 

GambarGambarGambar

nb: sumber gambar google.com