Jika ingin menyayangi, sayangi saja. Sudah.

 

Mbak W,

Jogja, 19 Maret 2017

Advertisements

 

 

13876476_10204803885775213_6396535408482059594_n

“Bung, situ dimana?”
Setengah tahun belakangan, sudah tak pernah ku ucap kata ini;

“Bung, situ dimana?”
..atau “Ayo ngopi”
Kata yang dulu sering kita tukar lewat pesan-pesan singkat, yang selalu berahir dengan gelak tawa atau muka meringis; cibir tanpa batas.
Aku sudah lelah, bung!
Kali ini biarkan musik menyana sebuah rasa iklas untuk pergimu.
“O’ music, grant me the serenity to accept the thing that I cannot change!”
….
Katamu dulu, “Aku raiso main gitar sentimentil koyo kowe, Char. Kowe kan wonge sentimentil banget, nek aku ki pagob”
Ha piye?
Kali ini biarlah kudawai nada-nada biru  buatmu. Biar luas sesak karena kata tak terucap yang dulu sering kita tukar lewat pesan-pesan singkat itu;
“Bung, situ dimana?”
—–
*foto saat featuring rekaman dengan Sungai, lagu Siklus (Erwin Zubyan, In Memoriam)*
—————–
Facebook Charlie Meliala

Ngene iki loooo, Maswinceeek… Sing kangen kamu akeh tenan, sliweran.. :’)

Bjonnicus-01

Perayaan.

Suami sibuk bukan alasan bagi Cece untuk tidak memberikan pesta kejutan. 

3 Juli 2013. Andre kembali ke kantor sepulang mengantarkan anak, istri, dan keponakannya pulang ke rumah. Naufal, putera kecilnya, kembali bermain denganku yang lebih dulu di rumah. Cece, sibuk mencuci baju yang baru saja kena muntahan Naufal. Bella, keponakan Cece dan Andre, sedang asyik mencobai baju-baju baru belanjaannya.

Naufal saat itu tidak enak badan. Cuaca pun hujan seolah tak berkesudahan. Rintik-rintik dan tak kunjung usai. Sampai dengan pukul setengah sembilan, di dalam kamar sembari menunggui Naufal tidur, aku, Cece, dan Bella membicarakan rencana kejutan yang belum juga dilaksanakan.

Aku awali rapat kecil kami dengan mencetuskan agar tart yang ingin dibeli diganti dengan pizza. Karena aku ingat, beberapa minggu yang lalu, Andre ingin mengajak kami makan di salah satu restoran pizza, tetapi gagal karena akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan yang harus dia kerjakan.

Cece setuju. Aku dan Bella pun bergegas ke mal terdekat. Sampai di area parkir mal, petugas parkir melambai-lambaikan tangan memberikan tanda bahwa sudah tidak menerima parkir masuk. Namun, aku bersikeras, motor aku lajukan mendekati tempat duduk mereka dan mengatakan bahwa aku hanya perlu waktu 15-30 menit untuk membeli pizza dan mampir ke supermarketnya sebentar. Beruntung, petugas parkir pun mengizinkan aku tetap masuk.

Aku dan Bella segera bergegas ke restoran yang kami maksud, segera memesan dua pizza ukuran medium. Sembari menunggu pizza dipanggang, kami bergegas menuju supermarket untuk membeli lilin angka 3 dan 1. Ternyata, lilin yang kami butuhkan hanya ada angka 3, angka 1-nya habis. Sedikit kecewa, kami pun kembali ke restoran pizza, dan menyusun rencana cadangan untuk membeli lilin di minimarket pinggir jalan—tentu saja, rencana cadangan ini meragukan.

Pizza yang kami pesan belum siap sehingga kami duduk di bangku dekat pintu masuk. Menunggu membuatku terilhami untuk jelalatan. Berkat itu, aku bisa melihat toko mainan anak-anak yang cukup besar ada di dekat restoran pizza itu. Dengan cepat, aku mengajak Bella untuk ke sana. Aku berani memastikan kalau di sana menjual lilin yang kami cari.

Tepat sekali! mereka menjual lilin angka. Dan..sebelum aku menuju rak lilin angka, aku melihat yang lebih menarik. Aku melihat lilin yang jika ditiup susah mati. Akal jahilku benar-benar aktif, tanpa perlu melihat ke rak lilin angka, aku langsung memberikan lilin anti-padam itu ke kasir. Segera membayarnya dan kembali lagi ke restoran pizza.

Ya, perjalanan kami penuh dengan segera dan bergegas. Ini darurat dan harus cepat. haha. Beruntung, aku punya partner sekeren Bella.

Lilin sudah dapat. Pizza sudah siap. Misi tambahan, Bella memintaku untuk memintakan balon bentuk anjing untuk Naufal di rumah. Balon pun sudah di dapat.

Semua daftar misi, centang! Kita bisa pulang.

Dekat dengan perjalanan pulang, aku menanyakan apakah Andre sudah di rumah atau masih lembur di kantor. Jawabnya, Andre masih di kantor. Horee! kami tidak perlu putar-putar di luar rumah—kekhawatiran utama kami saat itu adalah hujan! dan aku hanya punya satu jas hujan personal.

Kami masuk rumah. Pizza disimpan di kamarku. Kami kembali ke kamar Naufal.

Menjelang jam dua belas, Andre belum juga pulang. Melihat puteranya perlu dijaga, Cece memilih untuk tetap tinggal di rumah dan memintaku juga Bella mengantarkan pizza ke kantor Andre yang jaraknya hanya satu kilometer dari rumah.

[bersambung…]

Moon River.

Moon river. Lagu ini begitu syahdu, mengalun begitu damai hingga kalbu, entah itu dibawakan oleh Audrey Hepburn, maupun Lisa Ono.

Mungkin… bila suatu hari aku lupa ingatan, lagu yang akan membuatku pusing kepala karena tanpa sadar menguak memori masa lalu adalah lagu ini. Moon river.

Kamu adalah lagu yang terus mengalun syahdu di kalbuku. Thank you, Johnny Mercer! Thank you, Henry Mancini!

Sesak, tapi Hampa.

Kurang lebih seperti itulah tubuhku. Ragaku ke sana ke mari, mengurus ini itu, mengerjakan apa pun, tetapi jiwaku menganga.. merasa kosong cenderung hampa. Hambar.

Aku sadar aku sudah menjauhi-Nya. Aku salah. Aku kalah. Aku menyerah, kembali ke apa yang seharusnya aku lakukan untuk-Nya.

Terima kasih atas hampa yang Kau selipkan, untuk mengingatkanku dari kesombongan.

Terima kasih atas kosong yang Kau sisipkan, untuk menyadarkanku tentang keberadaan-Mu.

Terima kasih…

Temani aku…

Temani…

Aku takut sendirian, tanpa-Mu…

Istimewa

Kalau aku boleh memilih.. aku kembali hidup di Jogja, kota yang mengaliri darahku dengan seni, alam, budaya, dan segala kerumitannya. Aku ingin kembali menghidupi mimpiku, di sana…

Terlanjur Sayang

Segala cintaku yang kau jala
Membawa diriku pun percaya
Memberikan hatiku hanya kepada dirimu
Selamanya sampai kapan juga
Menjaga segala rasamu agar dirimu selalu
Merasa akan cinta kita

Apakah diriku yang bersalah
Hingga pisah di depan mata
Tetapi diriku masih tetap cinta kamu kasih
Selamanya sampai kapan jua
Menjagakan cinta kita agar tetap di tempatnya
Sehingga takkan sampai punah

Seribu ragu yang kian menyerang
Tapi diriku terlanjur sayang
Walau arah mata angin melawan
Tapi ku bertahan dan ku berjalan

Santun berkata kau pun menanyakan
Mengapa cinta dipertahankan
Tetapi haruskah dipertanyakan
Bila ku terlanjur ku terlanjur sayang

Surat Cinta Sang Mantan Presiden

Gambar

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,

dan kematian adalah sesuatu yang pasti,

dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

selamat jalan,
calon bidadari surgaku ….

BJ.HABIBIE