Angelic Voice #257: Pricilia Ahn

When You Grow up – Priscilla Ahn

When you were young enough

Doing all that fun kid stuff

Did you think of what you’d be?

Marco polo in the pool

Kickball games behind the school

Playing tag and hide ‘n seek

When you grow up, what kind of boy will you be?

Oh, what will you be?

Drawing pictures with some chalk

Raindrops wash it from the walk

Summer days it never ends

Spin the bottle on the ground

Watch it turning round and round

Maybe he will be my friend

When you grow up, what kind of girl will you be?

Oh, what will you be?

Will you write a book or invent a machine?

Will you be an astronaut or will you sail the sea?

(What will I be when I grow up?) La la, la la, la la, la la

(What will I be when I grow up?) La la, la la, la la, la la la la

(What will I be when I grow up?) La la, la la, la la, la la

(What will I be when I grow up?) La la, la la, la la, la

When you grow up, what kind of person will you be?

Oh the things you’ll be happy

 

Beberapa orang pusing, tak jarang komplain, dengan selera musik saya yang…susah didefinisikan. Jangankan mereka, apalagi ngana, lha wong saya sendiri aja pusing kalau diminta definisi lagu kesukaan saya.

Priscilla Ahn, ini bukan urutan sih, #257 itu asal sebut aja. Karena memang dia bukan yang #1, atau paling aku suka banget. Levelnya baru suka aja. Ada banyak judul lagunya yang menyenangkan dibaca, aransemen dan liriknya pun unch unch menggemaskan, bikin pengen ngunyah hengpon jadul punya Mimin Lambe Turah *eh, gimana?

Balik ke topik! Priscilla Ahn, sekilas mirip sama Maudy Ayunda, ya. Kalau ngana lebih kepo lagi, lalu googling, beberapa fotonya malah mirip Raisa. Entahlah. Gabungan wajah familiar gitu lah. Tahu Priscillla Ahn waktu cari OST When Marnie Was Here-nya Studio Ghibli. Suaranya bisik-bisik lemah gemulai~enak banget kayak nyeruput kuah wedang jahe perlahan. Cesss…

Selanjutnya, yuk mari coba bandingkan suara Priscilla Ahn dengan saya~ siap?
Ah, daripada gitu, mending tunggu obrolan #BjonnicusMusic sesi selanjutnya.

Cheers,

Bjonnicus-01

Congraduation, Dear You!

Sejak didapuk jadi tim kreatif di Creative Corner, saya dipaksa bisa desain pakai Adobe Illustrator. Langsung bisa? Ya enggak laaaaaah..
Ambyar. Dikit-dikit teriak, “Win!!! Ini gimana…? Teph, kok ilaaang! Nick, kok tampilannya gini! Aaaaa…not responding! *Banting bogem ke pundak siapa aja*. Ya, heboh dan bikin geregetan yang lain lah pokoknya.
Alhamdulillah, saya dilingkupi tim maha sabar. Desain saya, perlahan membaik dari waktu ke waktu. Yang paling berkesan itu desain ini, di tengah deadline customer yang singkat dan tetiba minta dibuatkan sketch ala ala, mulanya bikir kram otak ya.

Mana sebelumnya saya pede banget jawab, “Ya, bisa!” Dengan bayangan bakal dibantuin Nicko atau Tephani. Ternyata, mereka berdua loadnya full. Plus, Tephani ngomel, “Duh, kok mbok iyoi, Mbul.. itu kan ribet!”. Maaak..makin salah rasanya. Hahaha.

Oke, nyingkir sebentar ke lobi depan. Bertapa. Passion stalking saya sangat membantu dalam kasus ini, setelah scroll naik-turun, terbersit cara paling praktis: pakai Line Camera! Yeaaaaay~ edit pakai comic effect. Setelah comic effect sudah pas takarannya, simpan, pindah ke komputer, edit pakai Adobe Photoshop. Background? Teteup lah perlu ngerepoti sensei Tephani, jadi ya minta dia gituu. Penutup, kasih font kekinian ala anak muda masa kini *ya kali, masa iya ala selera anak muda masa lalu*.

Voila! Kun fayakun! Jadilaaah….

Kabar gembiranya, sejak desain ini diupload di socmed @illustratie_id desain ini yang paling banyak direquest untuk custom. Tak kalah menyenangkan, sekarang saya punya partner in crime, namanya Toni, yang sudah bisa membuat desain ini–jadi bisa back-up kalau saya sedang innactive otaknya. Hihi.

Cheers,

Pesyen-show!

Pekerjaan itu sekumpulan aktivitas. Sementara, passion itu terletak pada segala aktivitas yang membuat ngana teriak “Ah, ini mah guweeh banget!” Sisanya, yang membuat Anda refleks, “Kalau bisa bayar orang, gue bayar aja laaaah”.

Banyak perusahaan yang merahasiakan rahasia “Betapa efektifnya bekerja dengan passion” dari karyawannya. Padahal, jika passion+karyawan ini bertemu di tempat yang tepat, perusahaan yang menaungi seseorang beruntung ini akan lebih melejit.
Lalu, kapan seseorang menemukan passion mereka? Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama dua tahun, pada dua karyawan dengan tingkat pendidikan yang sama, gaji sama, bos sama, passion adalah:

1. Hal yang membuatmu merasa berdaya

2. Hal yang membuatmu merasa dimampukan di bidang yang kamu kerjakan, merasa ditabahkan, dikuatkan, hmm…dikerenkan! Kamu rela melakukannya terus-menerus tanpa diminta, hingga level piawai. Poin ini yang membedakan antara hobi dan passion. Fotografi hanya sekadar hobi jika kamu cuma jeprat-jepret suka, cetak, sudah. Fotografi adalah passion-mu, kalau kamu melakukannya berjam-jam, rela ke sana-ke sini untuk hunting foto terbaik, rela belajar lebih banyak untuk bisa masuk level fotogragi yang piawai.

3. Kesusahan yang didambakan (desirable difficulties), passion akan membuatmu sudi melalui satu proses agar bisa menjadi lebih keren dari prosesmu hari ini.

Thanks, @renecc !

*tos!

Love,

Bjonnicus-01

Orang Lain Akan Masuk dalam Cerita Anda…

Jika Anda berjalan mendekati sesuatu, hal itu akan balik mendekat. Selama bertahun-tahun, saya mengajarkan bahwa jika seseorang mantap berjalan menuju tujuannya, bantuan pasti akan datang. Bantuan itu bisa berarti materi, uang, atau orang. Namun, jika seseorang berhenti berjuang, bantuan pun akan menjauh.

— John C. Maxwell, Intentional Living

Damn, ngana betul, Akong! Bantuan datang dari segala penjuru. Ngweriiii…

😭

Love,

Bjonnicus-01

Words!

Di tengah obrolan absurd ke Ibuk Ai tentang sombong dan PD. Setelah menjawab, “Embuh karena itu relatif”, Ibuk meralat jawabannya:

“Eh, barusan Bapake Ai jawab: PD itu dalam diri. Sombong itu PD, tapi diomong-omong atau dibesar-besarin biar orang tahu.”-Bas, Bapak e Ai.

Words. Masuk akal. Setuju.

Bismillah…
Cheers,

Learning is an individual journey

Sekalipun tiga orang melewati proses belajar yang sama, masukan yang diterima masing-masing individu pasti berbeda. Ibarat nasib, pembelajaran adalah kesunyian masing-masing.
Oleh sebab itu, diperlukan sharing.
Spazio, 28 Juli 2016.

AMA Youth

Bjonnicus-01

 

 

13876476_10204803885775213_6396535408482059594_n

“Bung, situ dimana?”
Setengah tahun belakangan, sudah tak pernah ku ucap kata ini;

“Bung, situ dimana?”
..atau “Ayo ngopi”
Kata yang dulu sering kita tukar lewat pesan-pesan singkat, yang selalu berahir dengan gelak tawa atau muka meringis; cibir tanpa batas.
Aku sudah lelah, bung!
Kali ini biarkan musik menyana sebuah rasa iklas untuk pergimu.
“O’ music, grant me the serenity to accept the thing that I cannot change!”
….
Katamu dulu, “Aku raiso main gitar sentimentil koyo kowe, Char. Kowe kan wonge sentimentil banget, nek aku ki pagob”
Ha piye?
Kali ini biarlah kudawai nada-nada biru  buatmu. Biar luas sesak karena kata tak terucap yang dulu sering kita tukar lewat pesan-pesan singkat itu;
“Bung, situ dimana?”
—–
*foto saat featuring rekaman dengan Sungai, lagu Siklus (Erwin Zubyan, In Memoriam)*
—————–
Facebook Charlie Meliala

Ngene iki loooo, Maswinceeek… Sing kangen kamu akeh tenan, sliweran.. :’)

Bjonnicus-01

ERWIN.

Tiap baca nama itu, rasanya sesak
Lagu yang kuputar, tak jarang dilintasi bayangan sangar, tapi manis.
Seandainya jarak kita masih Surabaya-Jogja–dan sesekali kamu dolan ke kota Jancuk ini.

Hahhh
Ya wes, Mas. Mung curhat kok.
Muka ngehe hati hellokittymu tenanan bikin kangen *kekep guling gemes*

Semoga kedamaian senantiasa menyertaimu di sana.