Kereta.

Jika harus memilih dan ada cukup waktu, kereta menjadi pilihan transportasi publik kecintaan saya. Pesawat boleh cepat, awan-awan gemuk memang menggemaskan, dan panorama di atas udara saya akui selalu memikat, tapi, bagi saya, kereta menawarkan lebih dari itu. Bus? Itu pilihan terakhir saja. Paling terakhir.
Bagiku, kereta menawarkan perjalanan yang lebih mesra. Ia memberi jeda untuk lebih lama untuk memerhatikan sekitar.

Tentang lalu lalang pilu perpisahan atau haru pertemuan yang terjadi di depan mata–atau bahkan yang sedang dialami sendiri, uhuk.

Tentang nasihat atau janji indah sebelum berpisah.

Tentang aroma besi dan bangunan tua yang meneduhkan.

Tentang hijau sawah, gunung-gunung nan gagah, gelap terowongan, atau luas lautan dengan warna-warni kapal pesisir.

Atau… tentang tanya-jawab antara otak dan hati di dalam diri yang terus bersahutan *cieeee.
Begitulah, menunggu atau duduk di dalam kereta memberi waktu berbicara dengan hati lebih mendalam, terlebih saat posisi duduk di sebelah jendela.
Ah, ada banyak cara menikmati perjalanan di atas kereta.
Ada lagi.

Perjalanan yang lebih memikat dari setiap kelas kereta adalah dengan kereta ekonomi. Di sela tenggat nan padat, kereta ekonomi memberi jeda bahwa hidup tak melulu tentang diri sendiri yang ekslusif, beragam fasilitas atau pelayanan yang nyaman.
Ada banyak cerita yang menarik didengar atau dicuri dengar. Di kereta ekonomi, dengan mudah saya menemui penumpang lebih beragam, mulai mahasiswa, pejalan jauh, pedagang, atau berlapis-lapis kelas pekerja yang siap menumpahkan kesah atau semangat mereka–tinggal pilih, yang mana yang mau didengar.
Percaya atau tidak, kereta ekonomi tetap bisa dinikmati sekali pun sedang tidak ingin mengobrol. Caranya, pasang saja headset, matikan musiknya, dan mulai menguping. Trik ini persis dengan cara Mbak W jika sedang buntu dan memutuskan menguping di kafe. Cuma, kalau di kereta ekonomi, kisah yang didengar dijamin lebih kompleks. Berantakan, tapi seru. Haha.
Bisa juga, saat banyak penumpang terlelap, cukup pandangi mereka. Lihat keriputnya, lihat legam kulitnya, lihat wajah lelah mereka, lihat hal-hal yang jarang dilihat lebih dekat. Pandangi secukupnya–jangan berlebihan woi, bisa mengundang bahaya.
Bagi saya, kedua cara ini cukup jitu untuk memantik inspirasi penting (ya kalik…kalau memantik api mah kerjaan saya di kantor, ya).
Tentang memantik inspirasi, tak melulu perihal membuat karya, tapi tentang hal-hal receh yang membuat saya lebih bersyukur dengan keadaan saya sampai hari ini yang masih muda, sehat, dan menggemaskan eh, dikelilingi orang-orang yang menyenangkan.*
Gitu sih.

Bye.
——-

NB: tapi satu hal yang masih kurang cihuy di kereta ekonomi adalah toilet. PT @kai121 sudah berbenah, tapi semoga bisa lebih..lebih..lebih nyaman. Amiin.

——–

#bjonnicusvakansi #stasiun #onthetrain #train #pilgrimage #halah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s