Lebaran.

Katanya, lebaran itu suci. Aidil Fitr. Eid Mubarak. Semua kembali suci dan bersih secara lahir dan batin.

Nyatanya, lebaran di negeri ini kembali melucu. Semuanya kembali suci di hari yang fitri itu terlalu utopis untuk negeri ini—negeri tempat saya tinggal dan merayakan hari suci itu selama dua puluh tiga tahun lamanya. Indonesia. Di negara ini, semua yang ingin di-suci-kan kala hari suci tiba, seolah nampak berlebihan bahkan cenderung menyesakkan.

Bisa jadi, ini hasil kerja media. Yang setiap hari menjejali gambaran lebaran yang ideal, lengkap dengan baju baru, kue renyah yang ditata sedemikian dan sepenuh mungkin, serta  THR yang kerap digembar-gemborkan fungsinya. Imbasnya, semua menginginkan pencapaian lebaran ideal ala media. Semua berupaya menampilkan tampilan diri dan ruang tamu dengan sangat sempurna. Namun, di balik itu, jiwanya tetap hampa, jantungnya berdegup kencang memikirkan nasib keuangannya setelah lebaran usai . Ah, ini kah yang diinginkan? Mungkin, di balik itu, ada banyak pesan yang tak terkatakan dan belum saya ketahui.

Semalam, saya menerima telepon dari seorang teman. Posisinya, dia adalah perantau di Surabaya. Sama seperti saya, dia juga akan merayakan hari raya yang menyucikan itu. Dia bercerita tentang THR yang bernilai seperempat gajinya—karena dia baru bekerja selama empat bulan— sudah diterima sekaligus dihabiskan untuk berbelanja pakaian untuk keluarganya di kampung.

Ternyata, pengeluaran lebaran betul-betul mengerikan! Jadi inget waktu kecil, dulu bapak-ibu tiap lebaran harus beli baju, sandal, sepatu, buat anak-anaknya yang kayak domba. Banyak banget! mana setiap anak ngga cukup satu baju. Belum beli kue lebaran, belum angpau buat anak-anak kecil yang bertamu di rumah. Aaaaarrrgggh!

Ya. Dia cinta keluarganya, dia ingat kebutuhan keluarganya dan ingin memenuhinya. Namun, kurang lebih seperti itulah ucapannya, sebelum ia menutup pembicaraan seputar lebaran dengan kata-kata seperti ini.

Pantesan banyak yang jadi Atheis. Hari rayanya mengerikan! hih.

Ah, entahlah. Kepalaku sedikit mengamini apa yang dia katakan. Bukan tentang atheis, tapi tentang betapa mengerikan ritual lebaran yang akhir-akhir ini aku rasakan sebagai akhil baligh yang telah bekerja. Semua nampak nyata. Tidak satu dua, tetapi banyak pekerja yang rela membanting tulang untuk mendapatkan uang tambahan sebanyak mungkin. Lebih dari itu, banyak juga yang tega mencuri motor saat empunya barang khusyuk tarawih di masjid. Demi berlebaran. Demi mudik. Demi menunjukkan kesan kesuksesan. Apakah harus seperti itu untuk merayakan kesucian Lebaran?

Tuhan,

Untuk Lebaran tahun ini,

Sucikan aku, sucikan hatiku,

Sucikan pula orang-orang di sekitarku,

Agar kami benar-benar dalam keadaan suci, bukan sekadar menipu diri

Amin

Image

photo: weheartit.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s