Perayaan.

Suami sibuk bukan alasan bagi Cece untuk tidak memberikan pesta kejutan. 

3 Juli 2013. Andre kembali ke kantor sepulang mengantarkan anak, istri, dan keponakannya pulang ke rumah. Naufal, putera kecilnya, kembali bermain denganku yang lebih dulu di rumah. Cece, sibuk mencuci baju yang baru saja kena muntahan Naufal. Bella, keponakan Cece dan Andre, sedang asyik mencobai baju-baju baru belanjaannya.

Naufal saat itu tidak enak badan. Cuaca pun hujan seolah tak berkesudahan. Rintik-rintik dan tak kunjung usai. Sampai dengan pukul setengah sembilan, di dalam kamar sembari menunggui Naufal tidur, aku, Cece, dan Bella membicarakan rencana kejutan yang belum juga dilaksanakan.

Aku awali rapat kecil kami dengan mencetuskan agar tart yang ingin dibeli diganti dengan pizza. Karena aku ingat, beberapa minggu yang lalu, Andre ingin mengajak kami makan di salah satu restoran pizza, tetapi gagal karena akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan yang harus dia kerjakan.

Cece setuju. Aku dan Bella pun bergegas ke mal terdekat. Sampai di area parkir mal, petugas parkir melambai-lambaikan tangan memberikan tanda bahwa sudah tidak menerima parkir masuk. Namun, aku bersikeras, motor aku lajukan mendekati tempat duduk mereka dan mengatakan bahwa aku hanya perlu waktu 15-30 menit untuk membeli pizza dan mampir ke supermarketnya sebentar. Beruntung, petugas parkir pun mengizinkan aku tetap masuk.

Aku dan Bella segera bergegas ke restoran yang kami maksud, segera memesan dua pizza ukuran medium. Sembari menunggu pizza dipanggang, kami bergegas menuju supermarket untuk membeli lilin angka 3 dan 1. Ternyata, lilin yang kami butuhkan hanya ada angka 3, angka 1-nya habis. Sedikit kecewa, kami pun kembali ke restoran pizza, dan menyusun rencana cadangan untuk membeli lilin di minimarket pinggir jalan—tentu saja, rencana cadangan ini meragukan.

Pizza yang kami pesan belum siap sehingga kami duduk di bangku dekat pintu masuk. Menunggu membuatku terilhami untuk jelalatan. Berkat itu, aku bisa melihat toko mainan anak-anak yang cukup besar ada di dekat restoran pizza itu. Dengan cepat, aku mengajak Bella untuk ke sana. Aku berani memastikan kalau di sana menjual lilin yang kami cari.

Tepat sekali! mereka menjual lilin angka. Dan..sebelum aku menuju rak lilin angka, aku melihat yang lebih menarik. Aku melihat lilin yang jika ditiup susah mati. Akal jahilku benar-benar aktif, tanpa perlu melihat ke rak lilin angka, aku langsung memberikan lilin anti-padam itu ke kasir. Segera membayarnya dan kembali lagi ke restoran pizza.

Ya, perjalanan kami penuh dengan segera dan bergegas. Ini darurat dan harus cepat. haha. Beruntung, aku punya partner sekeren Bella.

Lilin sudah dapat. Pizza sudah siap. Misi tambahan, Bella memintaku untuk memintakan balon bentuk anjing untuk Naufal di rumah. Balon pun sudah di dapat.

Semua daftar misi, centang! Kita bisa pulang.

Dekat dengan perjalanan pulang, aku menanyakan apakah Andre sudah di rumah atau masih lembur di kantor. Jawabnya, Andre masih di kantor. Horee! kami tidak perlu putar-putar di luar rumah—kekhawatiran utama kami saat itu adalah hujan! dan aku hanya punya satu jas hujan personal.

Kami masuk rumah. Pizza disimpan di kamarku. Kami kembali ke kamar Naufal.

Menjelang jam dua belas, Andre belum juga pulang. Melihat puteranya perlu dijaga, Cece memilih untuk tetap tinggal di rumah dan memintaku juga Bella mengantarkan pizza ke kantor Andre yang jaraknya hanya satu kilometer dari rumah.

[bersambung…]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s