Get Well As Soon As Possible, My Best & Cute Little Buddy.

Dini hari merapat ke subuh.

Mataku terlalu berat untuk terbuka. Namun, tangis bayi itu terus pecah hingga ke telingaku. Bahkan, beberapa lengkingannya memekakkan telinga. Sesekali, terdengar juga suara lelaki dewasa yang tampak geram bersautan dengan dua wanita yang sedang gusar. Sejenak aku terenyak, dan segera berlari menuju sumber suara-suara itu.

Bayi itu adalah keponakan laki-lakiku, Naufal. Dia teman bermainku yang selalu ceria, saat sakit sekalipun.

Kemarin petang, 3 Juli 2013,  rumah dalam keadaan sepi. Mobil tidak terparkir seperti biasa, tanda empunya kendaraan sedang pergi. Aku di rumah sendiri. Setelah beberapa lama, Andre, Bella, dan Cece yang menggendong si kecil Naufal tiba. Mereka pulang dari menukar ponsel untuk Mbah Putri Naufal yang sempat bermasalah. Cece masuk rumah terlebih dahulu sembari mengatakan padaku bahwa Naufal baru saja muntah di mobil. Aku sudah terbiasa mendengar Naufal muntah. Dia sering seperti itu kalau terlalu banyak minum susu. Tapi, aku tetap bergegas mengambilkan baju ganti dan minyak telon untuk mencegahnya masuk angin karena muntahannya lumayan membuat badannya basah.

Setelah itu, kami bercanda seperti biasa, bermain riang dengan Naufal. Namun,dan dua sepupuku, Bella dan Cece, ingin mengadakan suprise party kecil untuk menyabut hari ulang tahun Andre, papa Naufal sekaligus suami Cece. Di sela pikiran kami yang sibuk ingin memberikan kejutan, Naufal muntah lagi. Kali ini, muntahannya di kasur dan dalam jumlah banyak. Tidak ada warna putih susu. Warnanya bening seperti air liur yang kental dan tidak bau.

Oke, kami kembali mengganti bajunya. Naufal yang gesit itu terus berlari, ke sana-ke mari, berputar, dan bolak-balik ruang tivi-kamar. Tak lama, Naufal kembali muntah… muntah… dan muntah lagi. Memasuki muntahan ke dua belas, warna muntahan Naufal menjadi kuning. Kata Cece, yang bekerja di bidang kesehatan, muntah yang disertai cairan kuning itu tanda kalau muntahnya sudah menguras habis isi lambung. Ini parah. Kami pun panik.

Di tengah kepanikan itu, Naufal pun tertidur dengan nyaman. Melihatnya tidur, meminum susu, dan tampak tenang membuat kami bertiga berkumpul menjaganya sembari membicarakan rencana kami semula.

Andre tak kunjung pulang. Aku dan Bella nyaris ketiduran di depan televisi. Untungnya, kami masih punya trik menghalang kantuk saat itu. Kami melanjutkan menjemur pakaian—yang sebelumnya sempat terabaikan—dan makan es krim.

Jam dua belas berhasil kami lewati dengan memberikan kejutan kecil di kantor Andre. Setelah itu, kami kembali pulang dan bisa tidur nyenyak.

Belum ada satu jam tidur, aku mendengar lengkingan pilu bayi lucu itu. Belasan kali muntahan, berak cair, dan air mata membuatnya  tampak sangat kurus dalam waktu yang sangat singkat. 

Mungkin tangisnya berhenti bersamaan dengan tenaganya yang perlahan menipis. Matanya kerap melamun. Sesekali air mata meleleh dari rengekan lemasnya. Dia ketakutan. Dia kesakitan. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia kembali menangis, memberi tanda rasa sakit kembali menyerangnya.

Akhirnya, saat itu juga, bayi mungil itu dibawa ke rumah sakit. Aku dan Bella standby di rumah.

Hingga saat ini, saat aku duduk mengerjakan tugasku di kantor, aku begitu mengkhawatirkan keadaan teman kecilku, teman bermainku, temanku yang lucu dan riang.

Naufal, Bu Dhe Ari sedih kalau kamu sakit separah itu.

Yang kuat seperti biasa ya sayang..

Yang tangguh kayak pesawat!

Bu Dhe sayang kamu..

Sebentar lagi.. Bu Dhe akan ke RS PHC… menjengukmu.

:*
 
Naucil Collage
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s