Sesak, tapi Hampa.

Kurang lebih seperti itulah tubuhku. Ragaku ke sana ke mari, mengurus ini itu, mengerjakan apa pun, tetapi jiwaku menganga.. merasa kosong cenderung hampa. Hambar.

Aku sadar aku sudah menjauhi-Nya. Aku salah. Aku kalah. Aku menyerah, kembali ke apa yang seharusnya aku lakukan untuk-Nya.

Terima kasih atas hampa yang Kau selipkan, untuk mengingatkanku dari kesombongan.

Terima kasih atas kosong yang Kau sisipkan, untuk menyadarkanku tentang keberadaan-Mu.

Terima kasih…

Temani aku…

Temani…

Aku takut sendirian, tanpa-Mu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s