Will You Coming Home

Sarita Fraya di Spotify!

Hahaha… akhirnya. Setelah sekian lama aku cari, selain di Reverbnation dan Soundcloud. Ah, thanks a lot Fraya & Spotify, sekarang tinggal muter kalau kangen Mas Erwin. Semua lagu Fraya selalu dan selalu bisa mengembalikan kenangan preman pantura satu itu. Petikan gitarnya yang aduhai, yang dulu membuat meleleh, kini campur aduk, antara sendu dan haru. Sungguh, bersyukur sekali sempat mengenal preman pagob pantura dengan hati hellokitty. Ah, rindu.

Screen Shot 2017-07-25 at 9.40.56 PM.png

Will you coming home, Mas Erwin Zubiyan? Aku ada banyak cerita yang mau aku chat atau obrolin langsung, wis pokok e siap di-ece sak kapokmu lah :’)

 

Eh, tapi tep lagumu di Soundcloud, terbaeq.

Love,

Bjonnicus-01

Advertisements

Persyaratan Kehilangan STNK.

Belum.

 

STNK-ku masih aman dan belum hilang. Semoga postingan ini bisa membantu saat terjadi kehilangan.

18893451_1726015501031984_7449733140931579329_n

Persyaratan Mengurus Kehilangan STNK (pic: FB Irawan Arya Kamandanu)

Cheers,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Enjoy being natural is not a statement. It is the closest I can get to being my self.”–Unknown

Entah aktivitasnya guling-guling, bangun tidur dengan muka bantal, atau persiapan ke wisuda teman dekat, ya mukanya gitu-gitu juga. Tetep pede, tetep kece! Bhay.

Cheers,
Bjonnicus

Distance by Asteriska: Sedih dan Jarak Berbalut Syahdu Nan Rancak

I love when people think about the beauty of sadness…”–Asteriska

Begitulah cuitan rising star yang semula saya kira Kiki Amalia (Njir lawas!). Iya, Kiki Amalia, tapi versi lebih caaantik, ayunya lebih natural dan asli–bukan hasil dempul kanan kiri.  Rupanya, sosok yang semula saya kenal sebagai backing vocal Barasuara (Serius, saya cuma tahunya dia backing vocal, parah banget, ya? Bae atuhh), memiliki suara yang aduhai.
Hmm… gimana ya? Sederhana. Manis. Lembut. (Keibuan, apa malah semacam bisikan mesraku ke Aa Nicsap gitu kali, ya.)

Ah, boleh lah kalau disebut eargasmeable–pinjam istilah kekinian yang apa-apa ditambah –able gitu.

Ngga percaya? Coba buktikan keaduhaian suaranya di debut albumnya: Distance. Semua lagu di album ini merupakan paduan apik antara folk, pop, dan ballad yang manis. Aransemennya yang kadang sendu, tenang, ada juga yang rancak riang. Menyenangkan. Padahal, tema keseluruhan album itu adalah kesedihan yang diciptakan oleh jarak.

Ngobrolin tema kesedihan, pastil lah inget Danilla Riyadi. Danilla totally genius dengan ke-gloomy-annya, kalau Asteriska ini menyajikan sendu dengan lebih banyak nada.

Lagu Distance, yang digadang-gadangkan hingga dijadikan tajuk debut album, memang ciamik! Terlebih, buat mereka yang sedang “berjarak” dengan pasangan nun jauh di sana *nunjuk-nunjuk, lagu Distance bisa membuatmu koprol tanpa aba-aba *eh, gimana?

Ya, gitu lah, ya…

Racikan lirik, aransemen, dan suara Asteriska benar-benar nyaman kalaupun memang ingin didengarkan berulang-ulang. Sekilas lagu ini mengingatkan pada lagu Kathy’s Song-nya Eva Cassidy. So breezy!

e8fdd05a2594c4204fb2b06cc271f0a1

current mood: easy breezy (via Young Frankk)

Selain Distance, saya juga suka Mr. Blue, yang mengisahkan one-sided love; Farewell To You(th), yang menembangkan kepedihan berpisah dengan kekasih;  Sad November, yang serupa judulnya, mengisahkan bulan memilukan hingga mempertanyakan keberadaan Tuhan. Saat mendengar lagu ini, imajinasi saya dibawa melayang ke tengah hutan, di tengah malam dan hati yang dingin, yang sulit dihangatkan sekalipun api unggun menyala terang. Dalam Sad November, pilu dan beku dikemas begitu romantis oleh Asteriska.

Pernah ngerasain coba move on, bertualang asmara, tersesat-jatuh bangun-lalu jatu cinta lagi? Asteriska pun menuangkan perasaan ini ke salah satu lagunya yang berjudul Secret Getaway. Irama rancak dengan lirik “tertatih” itu jenius! Keren lah. Suka!

Lhooo..kok banyak yang disuka? Iya…! Cihuy semua deh lagunya. So gewd! Really gewd!

Seminggu belakangan, album Distance masuk list lagu yang akrab di telinga saya. Saya memutarnya berkali-kali via Spotify. Saran aja sih, dengerin lagunya di sini dulu, baru baca liriknya. Tenang, sekalipun pakai bahasa Enggres (ada Perancis juga sih, satu!), artikulasinya jelas banget kok, dan pelan.. 😉

DISTANCE

There a times that i couldn’t stop my tears

Knowing that something is missing

Everyday we talk we share our world

You put a kaleidoscope in my life

We are miles away, you’re so far away, my dear

Now i know that i’m missing you so much

Every morning when i wake up,

You say “Hi” that’s my favorite part

You cheer me up, i feel close enough

But i can’t kiss you goodnight

And i can’t cry in your arms, your lips next to mine

Dear all i want you to know, i’ll be just fine

While my heart is screaming, we need to stand strong in the game

Even my heart is breaking, i have my faith in you

Wis ah. Bhay… *ndlosor

NB:
Biar blog tetap terisi, saya coba angkat #BjonnicusMusic yang kurang lebih nulis #BjonnicusPlaylistOfTheWeek (#BPOTW) kali ya. Idih, panjang amat? Ah, dipikir sambil jalan aja lah yaaa.. daripada keburu lupa. Oh iya, post juga dibuat karena #BjonnicusGengs , alias beberapa temen di kantor, di Jogja, dan di pulau seberang, yang mayan sering japri buat nanya: “Denger lagu apa hari ini?” Hihi. Sebagai pendengar tak setia, tiap minggu ada aja lagu kesayangan baru, ini bisa banget kan jadi win-win-win solution? Ngana senang, pembaca baru senang, berbik juga (combo) syenaaang kan? 😉

Cheers,

Bjonnicus.

KARTINI.

Kartini bukan soal pandai berdandan atau menyajikan masakan. Kartini adalah korban keadaan, yang berani melawan dan mencari dukungan untuk mewujudkan impian. Kartini adalah sosok yang mampu menggalang banyak dukungan pun dari kaum lelaki, yang kala itu menjadi tuan bagi segala perempuan.

Lucunya, di masa kini, hari lahir Kartini adalah pertanda masa promo jitu di bulan April. Di masa kini, hari Kartini justru diidentikkan hari pawai baju nasional, lomba memasak, dan lomba dandan pun berkebaya yang jauh sekali kaitannya. Bahkan, bertolak-belakang.

Kartini bukan cuma soal kutipan, yang sekali didengar atau dibaca lalu dilupakan.

Kartini bukan pahlawan, ia budak keadaan yang melawan demi hak dan kesetaraan. Kartini adalah pengingat, bagi setiap insan, perihal impian, jenis kelamin tak perlu dibedakan. Dari Kartini kita belajar bahwa perempuan juga punya hak untuk mengejar dan mewujudkan impian-impiannya, serta menggenapi tujuan yang ditetapkan Tuhan untuk hidupnya.

Terima kasih, R.A. Kartini…

Kini giliran kami.

Kereta.

Jika harus memilih dan ada cukup waktu, kereta menjadi pilihan transportasi publik kecintaan saya. Pesawat boleh cepat, awan-awan gemuk memang menggemaskan, dan panorama di atas udara saya akui selalu memikat, tapi, bagi saya, kereta menawarkan lebih dari itu. Bus? Itu pilihan terakhir saja. Paling terakhir.
Bagiku, kereta menawarkan perjalanan yang lebih mesra. Ia memberi jeda untuk lebih lama untuk memerhatikan sekitar.

Tentang lalu lalang pilu perpisahan atau haru pertemuan yang terjadi di depan mata–atau bahkan yang sedang dialami sendiri, uhuk.

Tentang nasihat atau janji indah sebelum berpisah.

Tentang aroma besi dan bangunan tua yang meneduhkan.

Tentang hijau sawah, gunung-gunung nan gagah, gelap terowongan, atau luas lautan dengan warna-warni kapal pesisir.

Atau… tentang tanya-jawab antara otak dan hati di dalam diri yang terus bersahutan *cieeee.
Begitulah, menunggu atau duduk di dalam kereta memberi waktu berbicara dengan hati lebih mendalam, terlebih saat posisi duduk di sebelah jendela.
Ah, ada banyak cara menikmati perjalanan di atas kereta.
Ada lagi.

Perjalanan yang lebih memikat dari setiap kelas kereta adalah dengan kereta ekonomi. Di sela tenggat nan padat, kereta ekonomi memberi jeda bahwa hidup tak melulu tentang diri sendiri yang ekslusif, beragam fasilitas atau pelayanan yang nyaman.
Ada banyak cerita yang menarik didengar atau dicuri dengar. Di kereta ekonomi, dengan mudah saya menemui penumpang lebih beragam, mulai mahasiswa, pejalan jauh, pedagang, atau berlapis-lapis kelas pekerja yang siap menumpahkan kesah atau semangat mereka–tinggal pilih, yang mana yang mau didengar.
Percaya atau tidak, kereta ekonomi tetap bisa dinikmati sekali pun sedang tidak ingin mengobrol. Caranya, pasang saja headset, matikan musiknya, dan mulai menguping. Trik ini persis dengan cara Mbak W jika sedang buntu dan memutuskan menguping di kafe. Cuma, kalau di kereta ekonomi, kisah yang didengar dijamin lebih kompleks. Berantakan, tapi seru. Haha.
Bisa juga, saat banyak penumpang terlelap, cukup pandangi mereka. Lihat keriputnya, lihat legam kulitnya, lihat wajah lelah mereka, lihat hal-hal yang jarang dilihat lebih dekat. Pandangi secukupnya–jangan berlebihan woi, bisa mengundang bahaya.
Bagi saya, kedua cara ini cukup jitu untuk memantik inspirasi penting (ya kalik…kalau memantik api mah kerjaan saya di kantor, ya).
Tentang memantik inspirasi, tak melulu perihal membuat karya, tapi tentang hal-hal receh yang membuat saya lebih bersyukur dengan keadaan saya sampai hari ini yang masih muda, sehat, dan menggemaskan eh, dikelilingi orang-orang yang menyenangkan.*
Gitu sih.

Bye.
——-

NB: tapi satu hal yang masih kurang cihuy di kereta ekonomi adalah toilet. PT @kai121 sudah berbenah, tapi semoga bisa lebih..lebih..lebih nyaman. Amiin.

——–

#bjonnicusvakansi #stasiun #onthetrain #train #pilgrimage #halah